Program Studi Perikanan Tangkap – Dalam rangka meningkatkan pemahaman konseptual dan keterampilan teknis mahasiswa terhadap karakteristik biologis ikan, Program Studi Perikanan Tangkap kembali menyelenggarakan praktikum mata kuliah Ikhtiologi. Kegiatan yang berlangsung ini berfokus pada pengamatan morfologi dan anatomi ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan metode anestesi (pembiusan) dan pembedahan.
Praktikum yang penuh dengan eksplorasi ilmiah ini secara khusus diampuh oleh Ibu Putri Meira Shyiang Sri, S.Pi., M.Si., dosen ahli di bidang biologi perikanan dan ikhtiologi. Dalam bimbingannya, mahasiswa tidak hanya belajar teori dari buku, tetapi juga langsung mempraktikkan prosedur standar penanganan ikan uji secara humanis dan akurat.
Tujuan Praktikum: Dari Pengenalan Hingga Pembedahan
Ibu Putri menjelaskan bahwa praktikum ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mahasiswa mampu mengidentifikasi karakter morfologi ikan nila, termasuk bentuk tubuh, tipe sisik, posisi mulut, serta sirip-siripnya sebagai ciri khas famili Cichlidae. Kedua, mahasiswa terampil melakukan teknik anestesi yang benar untuk mengurangi pergerakan ikan serta meminimalkan stres dan cedera pada objek. Ketiga, mahasiswa dapat melakukan pembedahan guna mengamati struktur organ internal (anatomi) secara sistematis.
“Penguasaan teknik anestesi dan pembedahan sangat krusial bagi calon sarjana Perikanan Tangkap. Saat nanti mereka terjun ke lapangan, baik untuk penelitian stok ikan maupun diagnosa penyakit, kemampuan ini akan menjadi fondasi penting,” ujar Ibu Putri di sela-sela praktikum.
Proses Anestesi: Langkah Awal yang Humanis
Pada sesi pertama, mahasiswa diperkenalkan pada larutan anestesi dengan dosis sesuai anjuran. Ikan nila yang sehat dimasukkan ke dalam wadah berisi larutan anestesi secara perlahan. Mahasiswa mengamati tahapan respons ikan, mulai dari fase eksitasi (pergerakan tidak teratur), fase depresi ringan (kehilangan keseimbangan), hingga fase anestesi total di mana ikan tidak merespons rangsang dan operkulum bergerak lambat.
“Pada fase inilah kita melakukan pengamatan morfologi dan pembedahan. Pastikan ikan benar-benar teranestesi sempurna agar tidak merasakan sakit dan kita bekerja dengan presisi,” tegas Ibu Putri saat membimbing mahasiswa.
Pembedahan dan Pengamatan Anatomi
Setelah ikan tidak menunjukkan respons refleks, mahasiswa memulai sesi pembedahan dengan peralatan bedah seperti gunat mikro, pinsil, dan skalpel. Dengan panduan modul praktikum, mereka melakukan sayatan ventral secara hati-hati mulai dari anus hingga ke arah kepala. Organ-organ internal kemudian diidentifikasi satu per satu: hati (hepar), saluran pencernaan (lambung, usus), limpa, ginjal, serta organ reproduksi. Perhatian khusus juga diberikan pada letak gelembung renang yang berperan dalam pengapungan ikan.
“Ciri khas ikan nila yang membedakannya dengan ikan lain adalah susunan alat pencernaannya yang relatif panjang serta adanya tonjolan pilorus. Mahasiswa harus bisa menemukan struktur itu,” tambah Ibu Putri.
Di akhir sesi, Ibu Putri mengingatkan pentingnya etika dalam penggunaan hewan untuk praktikum serta prosedur disposal (pembuangan) bangkai ikan yang sesuai protokol laboratorium. Program
Studi Perikanan Tangkap berharap praktikum semacam ini terus memotivasi mahasiswa dalam mendalami ilmu ikhtiologi sebagai bekal utama berkarier di sektor perikanan tangkap, baik sebagai pengawas sumber daya ikan, peneliti, maupun praktisi lapangan.
Dengan penguasaan morfologi dan anatomi, lulusan perikanan tangkap diharapkan mampu mengidentifikasi jenis ikan, menganalisis kebiasaan makan, serta memahami adaptasi biologis ikan terhadap alat tangkap dan lingkungannya.



Leave a Reply